Diskusi Serial Kewarganegaraan #6; Jogjapolitanisme? Menyoal Kebijakan Politik Pembangunan di DIY

Diskusi Serial#6 bertemakan “Jogjapolitanisme? Menyoal Kebijakan Politik Pembangunan di DIY” yang dilaksanakan pada hari Jumat Jum’at, 4 November 2016 Pukul 13.00 WIB di Ruang Ki Hajar Dewantara, FIS, UNY. Tidak kurang dari 90 peserta dari kalngan Akademisi, Dosen, Mahasiswa, dan wartawan turut hadir dalam Diser#6 ini. Kegiatan Diser#6 menanggapi salah satu isu penting yang mengemuka di DI Yogyakarta yakni pesatnya pembangunan hotel dan mall serta pusat perbelanjaan lainnya.

Terungkap dalam diskusi tersebut bahwa kondisi Yogyakarta telah semakin sama dengan kota besar lain di Indonesia. Jalanan di Yogyakarta sekarang sudah padat oleh kendaraan pribadi baik itu motor maupun mobil sampai-sampai pesepeda sering kehilangan jalur khususnya. Selain itu, hotel-hotel sudah sangat mudah dijumpai. Bukan hanya hotel kelas melati, hotel berbintang dan bertingkat-tingkat juga sudah sangat banyak. Dr. Suharno, M.Si. mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa Amdal dari kebanyakan hotel yang berdiri itu tidak layak dikeluarkan karena banyak yang prosesnya tidak sesuai dengan mekanisme yang seharusnya. Selain itu, adapula hotel yang belum keluar ijin beroprasinya tapi sudah buka dan melayani pengunjung, padahal itu melanggar aturan tetapi tidak ada yang menindak. Kondisi tersebut menurutnya bertentangan dengan nilai luhur Yogyakarta “Takhta Untuk Rakyat” dan nilai-nilai budaya Yogyakarta.

Dodok Putrabangsa sebagai aktivis “Jogja Ora Didol” mengawali dengan menyanyikan lagu lawas tentang Yogykarata yang menggambarkan keindahan dan suasana Yogyakarta yang indah dan asri di tahun 1980-1990 an. Melalui lagu itu ia menyampaikan bahwa kondisi terkini di Yogyakarta sudah tak seindah dahulu. Itu akibat dari kebijakan pembangunan yang tak berpihak pada rakyat kecil namun justru lebih menguntungkan para pemodal besar. Bahkan tidak jarang pembangunan tersebut menerabas pemukiman warga dan menyebabkan keruigian warga Yogyakarta seperti salah satiu hotel yang menyebabkan air tanah disekitarnya kering atau menurun debebtnya. (Cucu)